Selasa, 13 Desember 2011

SISTEM INFORMASI KEPERAWATAN BERBASIS KOMPUTER


Seiring dengan globalisasi, perkembangan zaman yang diikuti oleh perkembangan   pengetahuan dan teknologi, terutama perkembangan teknologi komputer. pengetahuan masyarakat tentang kesehatan juga mulai berkembang.  Perkembangan pengetahuan masyarakat membuat masyarakat lebih menuntut pelayanan kesehatan yang bermutu dan dapat dipertanggungjawabkan

Salah satu tenaga kesehatan adalah perawat. Perawat sebagai salah satu tenaga yang mempunyai kontribusi besar bagi pelayanan kesehatan, mempunyai peranan penting untuk meningkatkan mutu pelayanan kesehatan di dalam masyarakat.  Dalam upaya peningkatan mutu kesehatan, seorang perawat harus mampu melaksanakan tugasnya dengan asuhan keperawatan sesuai standar, yaitu mulai dari pengkajian sampai dengan evaluasi berikut dengan dokumentasinya.

Masih banyak perawat yang belum belum banyak menyadari bahwa tindakan yang merekan lakukan dalam melakukan pelayanan kesehatan harus dipertanggung jawabkan. Selain itu kurangnya dokumentasi juga disebabkan karena banyak perawat yang tidaktahu data apa saja yang akan dimasukan dan bagaimana cara mendokumentasikannya dengan baik dan benar.

Kondisi tersebut di atas membuat perawat mempunyai potensi yang besar terhadap proses terjadinya kelalaian dan kesalahan pada pelayanan kesehatan pada umum. Selain itu dengan tidak ada kontrol dalam pendokumentasian yang benar yang diberikan kepada pasien akan cenderung kurang baik, dan dapat merugikan pasien dalam pelayanan kesehatan.

Pendokumentasian asuhan keperawatan yang berlaku di beberapa rumah sakit di Indonesia umumnya masih menggunakan pendokumentasian tertulis Pendokumentasian tertulis ini sering membebani perawat karena perawat harus menuliskan dokumentasi pada form yang telah tersedia dan membutuhkan waktu banyak untuk mengisinya. Permasalahan  lain yang sering muncul adalah biaya pencetakan form mahal sehingga sering form pendokumentasian tidak tersedia

Pendokumentasian secara tertulis dan manual juga mempunyai kelemahan yaitu sering hilang. Pendokumentasian yang  berupa lembaran-lembaran kertas maka dokumentasi asuhan keperawatan sering terselip. Selain itu pendokumentasian secara tertulis juga memerlukan tempat penyimpanan dan akan menyulitkan untuk pencarian kembali jika sewaktu-waktu pendokumentasian tersebut diperlukan.
Sistem informasi merupakan suatu kumpulan dari komponen-komponen dan unsur-unsur dalam organisasi yang berhubungan dengan proses penciptaan dan pengaliran informasi. Sistem Informasi mempunyai komponen- komponen yaitu proses, prosedur, struktur organisasi, sumber daya manusia, produk, pelanggan, supplier, dan rekanan.  
Sistem informasi keperawatan adalah kombinasi ilmu komputer, ilmu informasi dan ilmu keperawatan yang disusun untuk memudahkan manajemen dan proses pengambilan informasi dan pengetahuan yang digunakan untuk mendukung pelaksanaan asuhan keperawatan Sistem informasi keperawatan berkaitan dengan legalitas untuk memperoleh dan menggunakan data, informasi dan pengetahuan  tentang  standar dokumentasi , komunikasi, mendukung proses pengambilan keputusan, mengembangkan dan mendesiminasikan pengetahuan baru, meningkatkan kualitas, efektifitas dan efisiensi asuhan keperawaratan dan memberdayakan pasien untuk memilih asuhan kesehatan yang diiinginkan. Kehandalan suatu sistem informasi pada suatu organisasi terletak pada keterkaitan antar komponen yang ada sehingga dapat dihasilkan dan dialirkan menjadi suatu informasi yang berguna, akurat, terpercaya, detail, cepat, relevan untuk suatu organisasi.
Sistem informasi manajemen keperawatan  sampai saat ini juga masih sangat minim di rumah sakit Indonesia.  Padahal sistem Informasi manajemen asuhan keperawatan mempunyai banyak keuntungan jika dilihat dari segi efisien, dan produktifitas.
Dengan sistem dokumentasi  yang berbasis komputer pengumpulan data dapat dilaksanakan dengan cepat dan lengkap. Data yang telah disimpan juga dapat lebih efektive dan dapat menjadi sumber dari penelitian, dapat melihat kelanjutan dari edukasi ke pasien, serta dapat memperhitungkan biaya dari pelayanan kesehatan.  Selain itu dokumentasi keperawatan juga dapat tersimpan dengan aman. Akses untuk mendapat data yang telah tersimpan dapat dilaksanakan lebih cepat dibandingkan bila harus mencari lembaran kertas yang bertumpuk di ruang penyimpanan.

Dokumentasi keperawatan dengan menggunakan komputer seyogyanya mengikuti prinsip-prinsip pendokumentasian, serta sesuai dengan standar pendokumentasian internasional seperti: ANA, NANDA,NIC (Nursing Interventions Classification, 2000).

Sistem Informasi manajemen  (SIM) berbasis komputer banyak kegunaannya, namun pemanfaatan Sistem Informasi Manajemen di Indonesia masih banyak mengalami kendala. Hal ini mengingat komponen-komponen yang ada dalam sistem informasi yang dibutuhkan dalam keperawatan masih banyak kelemahannya.

Kendala SIM yang lain adalah kekahawatiran hilangnya data dalam satu hard-disk. Pada kondisi tersebut hilangnya data telah diantisipasi sebagai  perlindungan hukum atas dokumen perusahaan yang diatur dalam UU No. 8 Tahun 1997. Undang-undang ini mengatur tentang keamanan terhadap dokumentasi yang berupa lembaran kertas, namun sesuai perkembangan tehnologi,  lembaran yang sangat penting dapat dialihkan dalam   Compact Disk Read Only Memory (CD ROM). CD ROM dapat dibuat kopinya dan disimpan di lain tempat yang aman . Pengalihan ke CD ROM ini bertujuan untuk menghindari hilangnya dokumen karena peristiwa tidak terduga seperti pencurian komputer, dan kebakaran.

Memutuskan untuk menerapkan sistem informasi manajemen berbasis komputer ke dalam sistem praktek keperawatan di Indonesia tidak terlalu mudah. Hal ini karena pihak manajemen harus  memperhatikan beberapa aspek yaitu struktur organisasi keperawatan di Indonesia, kemampuan sumber daya keperawatan, sumber dana, proses dan prosedur informasi serta penggunaan dan pemanfaatan bagi perawat dan tim kesehatan lain.

Bagaimana SIM keperawatan di Indonesia ? Sampai saat ini implementasi sistem informasi manajemen baik di rumah sakit maupun di masyarakat masih sangat minim, bahkan masih banyak perawat yang tidak mengenal apa sistem informasi manajemen keperawatan yang berbasis komputer tersebut.  Namun seiring dengan perkembangan pengetahuan dan ilmu pengetahuan maka beberapa rumah sakit di Jakarta dan kota lain sudah menerapkan system informasi keperawatan yang berbasis komputer.

JENIS-JENIS SISTEM INFORMASI


Sistem informasi dikembangkan dan dibuat untuk maksud dan tujuan yang berbeda-beda tergantung user yang akan menggunakan sebuah sistem tersebut, sistem informasi dapat dibagi menjadi beberapa bagian :

1.      Office Automation System (OAS) dan knowledge work system (KWS)
OAS dan KWS adalah sistem yang bekerja pada level knowledge. OAS mendukung pekerja data yang biasanya hanya menyediakan data atau memanipulasinya dengan cara-cara tertentu sebelum menyebarkan secara keseluruhan dengan organisasi. Aspek OAS seperti wordprocessing, spreadsheets dan komunikasi melalui voice email dan video conferencing. KWS mendukung para pekerja professional seperti ilmuan dan professor dengan membantu menceiptakan pengetahuan baru untuk setiap bidang tertentu yang memungkinkan mereka mengkontribusikannya ke sebuah organisasi tertentu di dalam masyarakat.
2.      Transaction Processing System (TPS)
TPS adalah sistem informasi yang terkomputerisasi yang dikembangkan untuk memproses data dalam jumlah yang besar dan membutuhkan waktu yang cepat dalam pemrosesannya, biasanya untuk level organisasi digunakan untuk transaksi bisnis seperti daftar gaji dan inventarisasi.
3.      Sistem Informasi Manajemen (SIM)
SIM mendukung kinerja dari TPS termasuk analisis keputusan dan pembuatan keputusan. SIM menghasilkan informasi yang digunakan untuk membuat keputusan dan juga dapat membantu menyatukan beberapa fungsi informasi bisnis yang sudah terkomputerisasi.
4.      Decision Support System
DSS hampir menyerupai SIM dalam kinerjanya, karena menggunakan basis data sebagai sumber data. DSS bermula dari sebuah SIM karena menekankan pada fungsi mendukung pengambilan keputusan dalam sebuah organisasi tertentu. 



5.      Group Decision Support System (GDSS) dan Computer Support Collaborative Work( CSCW)
GDSS dimaksudkan untuk membawa bersama sama menyelesaikan sebuah masalah dengan memberi bantuan dalam bentuk pendapat, konsultasi dan scenario, kadang-kadang GDSS disebut juga dengan CSCW yang mencakup pendukung perangkat lunak yang disebut groupware untuk konsultasi tim melalui komputer yang terhubung oleh jaringan dalam sebuah organisasi.
6.      Sistem Ahli(ES) dan Kecerdasan Buatan(AI)
Kecerdasan buatan dimaksudkan untuk mengembangkan dan membuat mesin yang berfungsi secara cerdas, dua cara untuk melakukan riset AI adalah menganalisis kemampuannya untuk berfikir melalui masalah sampai mendapatkan kesimpulan logiknya, dan memahami bahasa ilmiahnya. Sistem ahli secara efektif menangkap dan menggunakan pengetahuan seorang ahli untuk menyelesaikan masalah yang dialami oleh sebuah organisasi tertentu  
7.      Executive Support Systems (ESS)
ESS bekerja tergantung kepada sebuah informasi yang dihasilkan oleh TPS dan SIM. DSS membantu eksekutif mengatur iteraksinya dengan lingkungan eksternal dengan menyediakan grafik-grafik dan pendukung komunikasi di tempat-tempat yang bisa diakses seperti kantor.

Pengelola Sistem Informasi


Salah satu perangkat yang paling penting dari sistem informasi adalah manusia sebagai pengelola informasi, dan pengguna informasi. Oleh karena itu hubungan antara manusia dan sistem informasi dengan pengelolanya sangat erat. Sistem informasi yang dibutuhkan sangat tergantung dari kebutuhan pengelolanya, dan baik atau buruk sebuah sistem tergantung dari pengelola sistem tersebut.

Pengelola sistem informasi atau user terorganisasi dan terintergrasi didalam suatu struktur manajemen yang telah diatur dialam sebuah organisasi tertentu. Oleh karena itu bentuk atau jenis sistem informasi yang diperlukan sesuai dengan level manajemennya.

·         Manajemen Level Atas untuk perencanaan strategis, kebijakan dan pengambilan keputusan.
·         Manejemen Level Menengah: untuk perencanaan taktis dan pengambilan keputusan.
·          Manejemen Level Bawah: untuk perencanan dan pengawasan operasi dan pengambilan keputusan.
·         Operator: untuk pemrosesan transaksi dan merespon permintaan.










Kemudian setelah dikembangkan dengan semakin besarnya lingkup sebuah informasi yang memerlukan adanya penataan kembali personel dengan baik terumata pada struktur manajemen yang mendukung pengambilan sebuah keputusan yang sangat penting didalam sebuah organisasi. Sangat Perlu juga Manajemen sumber daya manusia yang perlu dilakukan dengan benar agar sistem informasi dapat berjalan dengan baik. Hal itu dilakukan untuk mengurangi terjadinya kesalahan-kesalahan yang bersifat manusiawi (Human eror)  yang dapat mengurangi mutu informasi yang dihasilkan sebuah sistem tersebut.
Kesalahan-kesalahan yang dapat terjadi didalam sebuah sistem diantaranya adalah :
·         Metode pengumpulan dan pengukuran data yang tidak tepat.
·         Operator sistem tidak mengikuti prosedur pengolahan yang benar sehingga menyebabkan sistem bejalan dengan tidak benar.
·         Kehilangan data atau data tidak terolah.
·         Pemeriksaan atau pencatatan data yang salah.
·         Salah dalam menggunakan dokumen induk/file induk.
·         Kesalahan dalam prosedur pengolahan.
·         Kesalahan yang dilakukan dengan sengaja.